Tampilkan postingan dengan label success story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label success story. Tampilkan semua postingan

20 Desember 2009

Ken Soetanto : Korban Kebijakan Orde Baru


PASAR Atom Surabaya punya ikatan sejarah yang melekat pada kehidupan Ken Soetanto muda. Sebab, pria kelahiran 1951 itu sejak belia sudah diajari ayahnya berdagang di sana. Sambil menimba ilmu di sekolah menengah di kawasan Baliwerti, Soetanto merasakan betul pahit getirnya mencari uang. baca sebelumnya

Di pasar yang terkenal dengan produk kain dan garmen itu, Soetanto mengelola toko elektronik bersama sang kakak. Toko sederhana itu menyediakan berbagai perkakas elektronik, mulai radio, tape recorder, hingga televisi. Soetanto juga melayani servis purnajual lengkap dengan onderdilnya.

Berkat ketekunannya, Soetanto menjadi manajer toko sejak 1968 hingga 1974. Pada 1969, SMA Chung-chung di kawasan Baliwerti, Bubutan, ditutup pemerintah seiring kebijakan anti-Tionghoa kala itu. Akibatnya, Soetanto hanya bisa bersekolah hingga kelas 1 SMA. Tetapi, penutupan sekolah itu memberi hikmah tersendiri. Soetanto jadi makin berkonsentrasi mengurusi toko elektronik. Apalagi, Soetanto juga punya hobi mengutak-utik peralatan elektronik.

Suatu hari, keahlian Soetanto di bidang elektronik mencuri perhatian seorang pelanggannya yang kebetulan berkewarganegaraan Jepang. Orang itu kagum melihat cara Soetanto ’menganalisis’ sekaligus memperbaiki kerusakan radionya.

"Orang Jepang itu lantas menawari Soetanto belajar elektronik ke Jepang. Orang itu tidak menyediakan dana, tetapi hanya kalau mau belajar ke Jepang, bakal difasilitasi," kata Longtjing Tandi, kerabat dekat Prof Soetanto, yang kini menetap di kawasan Pinangsia, Jakarta Pusat, kemarin.

Soetanto langsung tertarik. Rasa penasaran mengalahkan segalanya, termasuk siap berjauhan dengan orang tua di Surabaya. Keinginannya belajar elektronik tersebut diceritakan ke semua orang. Menariknya, hal itu menjadi bahan lelucon di kalangan kerabatnya.

"Waktu itu ada saudara yang bilang, bagaimana kamu mau belajar ke Jepang, wong letak (negara) Jepang saja tidak tahu. Apalagi, kamu (Soetanto) warga keturunan. Piye toh," kenang Longtjing.

Toh, semua itu tak membuat Soetanto patah arang. Ini dibuktikan dengan langkahnya yang bersemangat mencari tahu bagaimana belajar ke Jepang dari berbagai informasi. Soetanto juga siap memecah celengan untuk ongkos membeli tiket dan biaya hidup beberapa bulan bila sampai di Jepang. Dan, pada 1974, atau saat berusia 23 tahun, Soetanto pun akhirnya jadi juga terbang ke Jepang.

Salah satu ketertarikannya belajar di Negeri Sakura karena inovasi televisi merek Jepang yang semakin tahun menjadi maju. Produk televisi merek Jepang, antara lain, Toshiba dan Sanyo, kala itu menjadi tren karena teknologi transistor memungkinkan bentuk televisi menjadi lebih kecil dan trendi. Ini sekaligus menggantikan teknologi televisi sebelumnya yang menggunakan tabung.

"Saya memang penasaran dengan teknologi transistor. Ini inovasi luar biasa. Sebab, sebelumnya banyak televisi Eropa merek Grundig dan Philips yang tampilannya jauh lebih gede karena menggunakan tabung," kata Soetanto.

Dia benar-benar bermodal nekat. Betapa tidak. Soetanto terbang ke Jepang hanya dibekali uang hasil tabungannya setelah enam tahun menjadi manajer di toko elektronik. Celakanya, Soetanto sama sekali tidak bisa berbahasa Jepang.

Menurut Longtjing, Soetanto sesampai di Tokyo sejenak menetap di rumah warga Jepang kenalannya sewaktu di Surabaya. Selanjutnya, dia mencari informasi rumah kos di dekat kampus. Soetanto awalnya menginginkan kuliah satu tahun di Electronics Institute dan langsung pulang ke Surabaya.

Tetapi, dia menyadari bakal kesulitan belajar di perguruan tinggi tanpa menguasai bahasa Jepang. "Saya selanjutnya berangkat ke Osaka. Saya belajar singkat tentang bahasa Jepang," jelas Soetanto.

Pria berkacamata itu sempat kesulitan belajar bahasa Jepang karena ada pengajarnya yang menegur, kalau belajar bahasa Jepang di Osaka, harus menggunakan logat Osaka. Dan, lambat laun Soetanto pun akhirnya bisa menguasai bahasa Jepang.

Impian Soetanto baru terpenuhi setelah tiga tahun "hidup menggelandang" di Tokyo. Nama Soetanto keluar sebagai dua di antara 30 pelamar beasiswa mahasiswa asing yang ditawarkan pemerintah Jepang.

Selanjutnya, Soetanto kuliah di TUAT (Tokyo University of Agriculture and Technology) dengan mengambil jurusan teknik elektronik. Selepas mengambil gelar sarjana, Soetanto melanjutkan ke program master dan doktor. Yang menarik, Soetanto mengambil dua program doktor. Yakni, doktor bidang teknik di Tokyo Institute of Technology (1985) dan bidang kedokteran di Tohoko University (1988).

Begitu meraih gelar dua doktor, Soetanto pulang ke Surabaya untuk yang pertama. Kesempatan itu benar-benar dimanfaatkannya untuk menyunting gadis impiannya yang kebetulan teman sebangkunya semasa di SMA Ching-chung. Soetanto dan istrinya terpaksa untuk sementara berjauhan karena kembali masuk ke bangku perkuliahan program doktoral. Istri, orang tuanya, dan mertuanya pun memaklumi tekad bajanya dalam menimba ilmu.

Selang beberapa tahun kemudian, dia menamatkan lagi program doktor bidang farmasi di Science University of Tokyo. Nah, ada kejadian menggelikan ketika beberapa kerabatnya dari Indonesia, termasuk Longtjing, diundang menghadiri wisuda program doktor Soetanto yang keempat.

Sesampai di ruang wisuda, ternyata Longtjing tidak tahu-menahu bidang pekerjaan yang ditekuni kerabatnya itu. Ditanya pekerjaannya, Soetanto hanya bilang sebagai pengangguran. "Dia bilang kerja pengangguran. Kalaupun kerja, itu serabutan," ungkap Longtjing.

Dia tidak percaya dan bertanya kepada keempat profesornya yang kebetulan mengikuti wisuda. Profesor yang mempromotori Soetanto serempak menyatakan bahwa dia adalah aset perguruan tinggi termahal karena kecerdasannya yang luar biasa. "Itu (mahasiswa) nomor satu. Selama lima puluh tahun mengajar di sini (Science University of Tokyo), saya belum pernah punya mahasiswa secerdas dia (Soetanto)," ujar profesor seperti yang dikutip Longtjing. Pendek kata, semua menilai positif kemampuan akademik Soetanto.

Toh, jawaban tersebut tak menghilangkan rasa penasaran Longtjing. Dia justru semakin penasaran mengapa seorang mahasiswa cerdas justru bekerja serabutan.

Soetanto lantas menjelaskan kegalauan Longtjing. Dia menyatakan, iklim pendidikan tinggi di Jepang tidak mendukung seseorang yang cerdas dijamin mendapat posisi penting. "Ini Jepang. Di sini, senioritas masih berlaku. Jadi, kalaupun saya punya empat gelar doktor pada usia 37 tahun, itu belum tentu bisa diterima. Saya perlu antre dulu untuk bisa bekerja seperti mereka," jelas Soetanto.

Penjelasan tersebut akhirnya dimengerti Longtjing. Dan, Longtjing mengusulkan agar dia bisa mengambil program doktor lagi ke AS. Usul Longtjing itu direspons Soetanto. Dan, dia akhirnya memilih terbang ke AS untuk menjadi akademisi di Drexel Unversity dan Thomas Jefferson University, Philadelphia. Di dua universitas tersebut, Soetanto tercatat sebagai associate professor. Otaknya juga diakui akademisi AS terbukti mampu meraih bantuan riset senilai USD 1 juta dari NIH (National Institutes of Health, USA).

Tampaknya, Soetanto tidak bisa bertahan lama berada di komunitas perguruan tinggi di AS. Maklum, selama berada di AS, dia mengaku rindu dengan suasana penuh romantisme dan "etik" Jepang yang hanya ditemukan di Negeri Sakura.

Bak gayung bersambut, profesornya di Jepang, Motoyosi Okujima, kebetulan meminta agar dia balik ke Jepang untuk membesarkan Toin University of Tokyo (TUY). Dan, tawaran tersebut akhirnya memaksa Soetanto kembali ke Jepang pada 1993.

Di TUY, Soetanto mendapat posisi sebagai profesor dan ketua Program Biomedical Engineering Departement of Control and Systems Engineering. Dia juga mendapat jabatan lain sebagai direktur Center for Advanced Research of Biomedical Engineering di TUY yang dibiayai Kementerian Pendidikan Jepang. Jabatan lain yang dijabat hingga sekarang adalah wakil dekan di International Affairs of Waseda University.

Popularitas Soetanto di kalangan akademisi di Jepang pernah terdengar di telinga mantan Presiden RI B.J. Habibie. Habibie yang kala itu menjabat Menristek pada era 1980-an pernah bertemu hingga empat kali untuk meminta Soetanto pulang kampung memperkuat jajaran akademisi di Indonesia.

"Tetapi, Soetanto masih ingin tinggal di Jepang. Saya nggak tahu alasannya menolak pulang ke Indonesia," jelas Longtjing.

Soetanto mengaku belum tertarik pulang ke tanah air karena perhatian pemerintah terhadap akademisi dinilainya kurang. Padahal, kala itu Habibie menawari Soetanto untuk bergabung di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Kendati menolak tawaran pulang, kecintaan Soetanto terhadap tanah kelahirannya tak sedikit pun berubah. Hingga detik ini, Soetanto mempertahankan kewarganegaraan Indonesia. Untuk melepas kerinduan dengan sanak familinya yang tinggal di Jalan Darmahusada, Surabaya, Soetanto biasanya pulang sekali setahun.

Yang menarik, karena masih ada darah Tinghoa, Dubes China di Jepang juga pernah menawari Soetanto berpindah kewarganegaraan ke China. Tawaran itu pun ditolak. "Saya masih WNI. Paspor saya masih Indonesia," tegasnya singkat.

Perjumpaan Habibie dengan Soetanto bisa dibilang tidak sengaja. Suatu ketika, Habibie sedang mengunjungi koleganya beberapa doktor universitas di Tokyo. Soetanto memfasilitasi pertemuan itu dengan menjadi penerjemah (bahasa Jepang) antara Habibie dan para doktor. Suatu ketika, Habibie menyentil siapa penerjemah itu kok fasih berbahasa Indonesia dan Jepang. Pertanyaan Habibie itu dijawab koleganya bahwa dia doktor berkewarganegaraan Indonesia. "Dia mahasiswa program doktoral dengan prestasi jempolan," kata kolega Habibie.

Habibie tenyata pernah menyampaikan keinginannya ’memulangkan’ Soetanto ke hadapan Pak Harto. Karena itu, saat ada kunjungan dinas ke Jepang, Soeharto pernah menemui Soetanto. "Saat itu beliau (Soeharto) juga meminta Soetanto pulang, tetapi tetap ditolaknya," kata Longtjing. Longtjing mengetahui apa pun aktivitas Soetanto karena selama berada di Tokyo selalu berkomunikasi lewat telepon.

Interaksi Soetanto dengan pejabat Indonesia tidak hanya itu. Mantan Wapres Adam Malik pun pernah meminta bantuan Soetanto ketika menjalani perawatan kesehatan rutin di Tokyo. Saat itu, yang memfasilitasi perkenalan Adam Malik dan Soetanto adalah Dubes RI di Jepang Wiyogo Atmodarminto.

Wiyogo yang mantan gubernur DKI benar-benar ketiban sampur karena dimintai bantuan staf Wapres agar mengurus perawatan Adam Malik di sebuah rumah sakit di Jepang. Maklum, tingkat kedisiplinan di Jepang yang begitu tinggi tak memungkinkan memprioritaskan perawatan pejabat sekelas Wapres sekalipun. Artinya, Adam Malik harus tetap antre untuk menjalani perawatan.

Untungnya, Wiyogo mengingat nama Soetanto yang kebetulan menjadi doktor bidang kedokteran dari Tohoku University. Soetanto akhirnya turun tangan. Dan, Adam Malik pun tidak perlu antre untuk menjalani perawatan, bahkan mendapat perawatan eksklusif dari kolega Soetanto
 
Sumber : http://www.tokohindonesia.com
 
dan saya kak roni SALAM SUKSES LUAR BIASA CERDAS
Share:

19 Desember 2009

Ken Soetanto : Konsep Pendidikan " Soetanto Effect "


Di luar status kehormatan akademik tersebut, dia masuk birokrasi di Negeri Sakura. Pria yang pernah berkawan dengan mantan Presiden RI B.J. Habibie itu tercatat sebagai komite pengawas (supervisor committee) di METI (Ministry of Economy, Trade, and Industry atau semacam Menko Perekonomian di RI). baca juga sebelumnya
 
Selain itu, dia ikut membidani konsep masa depan Jepang dengan terlibat di Japanese Government 21st Century Vision. "Pada jabatan tersebut, saya berpartisipasi langsung menyusun GBHN (kebijakan makro)-nya Jepang," ungkap Soetanto yang masih fasih berbahasa Indonesia dan Jawa itu. Buah pemikiran Soetanto terkenal lewat konsep pendidikan "Soetanto Effect" dan 31 paten internasional yang tercatat resmi di pemerintah Jepang.
 
Inovasi yang dipatenkan itu mayoritas berlatar bidang keilmuannya, mulai elektronika engineering, teknologi informasi, penemuan pengobatan kanker, dan teknik imaging serta bidang farmasi.
 
Mau tahu berapa dana yang diraih Soetanto untuk membiayai riset-risetnya? Jumlahnya sangat mencengangkan untuk ukuran akademikus bergelar profesor atau mereka yang pernah menduduki jabatan tertinggi di perguruan tinggi (rektor). Kementerian Pendidikan Jepang mendanai Soetanto sampai USD 15 juta (Rp 144 miliar) per tahun.

Di antara segudang prestasi itu, bisa jadi yang paling membanggakan, khususnya bagi warga Surabaya, adalah latar belakang sekolah dasar dan menengahnya yang ternyata dihabiskan di kota buaya. Soetanto muda mengenyam pendidikan SD swasta di Kapasari, SMP Baliwerti, dan SMA Budiluhur yang dulu menjadi julukan sekolah warga keturunan Tionghoa.

Toh, Soetanto mengaku belum puas. Obsesi terpendamnya adalah bagaimana karya akademisnya bisa dinikmati orang lain. "Saya berbahagia bila bisa menyenangkan orang lain," katanya mengungkap visi hidupnya.

Soetanto sempat memberikan buah pemikirannya di hadapan ratusan mahasiswa President University. Isi ceramah akademisnya menarik perhatian mahasiswa. Bahkan, beberapa jajaran direksi PT Jababeka, termasuk Dirut PT Jababeka Setyono Djuandi Darmono. Maklum, Soetanto membeberkan pengalamannya bisa ’menaklukkan’ dunia perguruan tinggi Jepang kendati hingga sekarang masih berkewarganegaraan Indonesia.

Selebihnya, Soetanto banyak mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia yang perlu dirombak lagi agar lulusannya lebih berkualitas. "Sistem pendidikan di sini (Indonesia) sudah tertinggal jauh. Bahkan di bawah Malaysia dan Vietnam," jelas Soetanto dengan gaya bicara berapi-api.

Ironisnya, penghargaan terhadap staf pengajar atau guru di Indonesia juga sangat kurang. Soetanto lantas mencontohkan kecilnya gaji guru yang memaksa mereka harus bekerja sambilan. "Karena faktor tersebut, jangan heran bila banyak ilmuwan Indonesia mencari penghasilan di luar negeri," pungkas Soetanto
Share:

15 Desember 2009

Ken Soetanto : Peraih Empat Gelar Doktor


Raih 31 Paten, Risetnya didanai  Rp 144 Miliar Setahun. Prestasi membanggakan ditorehkan Profesor Ken Soetanto. Pria kelahiran Surabaya ini berhasil menggondol gelar profesor dan empat doktor dari sejumlah universitas di Jepang. Lebih hebatnya, puncak penghargaan akademis itu dicapainya pada usia 37 tahun.

Penampilan fisiknya nyaris tak berbeda jika dibandingkan dengan kebanyakan orang Jepang. Kulitnya kuning. Rambut lurusnya, disisir rapi. Kemejanya yang diseterika licin dipadu jas menunjukkan dia menyukai formalitas. Tapi, begitu berbicara, akan terkesan bahwa Prof Soetanto -demikian dia dipanggil- bukan orang Jepang. Bicaranya ceplas-ceplos dengan logat suroboyoan-nya yang khas.

Penemu konsep pendidikan tinggi "Soetanto Effect" di Negeri Sakura itu beberapa hari ini berkunjung ke Indonesia. Soetanto mendampingi sejumlah koleganya, Dr Kotaro Hirasawa (dekan Graduate School Information Production & System Waseda University) dan Yukio Kato (general manager of Waseda University), menandatangani memorandum of understanding (MoU) antara Waseda University dan President University, Jababeka Education Park, Cikarang, Jawa Barat, Sabtu lalu.

Waseda University adalah perguruan tinggi swasta terbesar di Jepang. Reputasinya setara dengan universitas negeri semisal Tokyo University, Kyoto University, atau Nagoya University. Mahasiswa yang berguru di Waseda University 51.499 orang. Diantara jumlah itu, 1.234 orang berasal dari luar Jepang. Waseda University telah menganugerahkan 81 gelar kehormatan bagi pemimpin negara, mulai mantan PM India Jawaharlal Nehru (1957) hingga mantan PM Singapura Lee Kuan Yew (2003). Dari Indonesia, Ginandjar Kartasasmita juga pernah belajar di sini.

President University adalah institusi perguruan tinggi berbasis kurikulum bertaraf internasional yang berlokasi di tengah-tengah sekitar 1.040 perusahaan di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang. Selain putra berbaik dari Indonesia, para mahasiswa President University berasal dari China dan Vietnam.

Kehadiran Soetanto tak begitu menyita perhatian publik. Maklum, wakil dekan Waseda University tersebut hanya "sebentar" memberikan ceramah populernya di hadapan ratusan mahasiswa dan civitas academica President University. Dia tak sempat berbagi keilmuan dengan sesama akademisi seperti UI, UGM, ITB, dan Unair. Sebuah kesempatan yang agak disesalkan bagi orang dengan kemampuan akademik sekaliber Soetanto.

Prestasi akademik Soetanto bisa dibilang di atas rata-rata. Misalnya, pada 1988-1993, dia tercatat sebagai direktur Clinical Education and Science Research Institute (CERSI) merangkap associate professor di Drexel University dan School Medicine at Thomas Jefferson University, Philadelphia, AS.

Dia juga pernah tercatat sebagai profesor di Biomedical Engineering, Program University of Yokohama (TUY). Selain itu, pria kelahiran 1951 tersebut saat ini masih terdaftar sebagai prosefor di almameternya, School of International Liberal Studies (SILS) Waseda University, serta profesor tamu di Venice International University, Italia.

Otak arek Suroboyo itu memang brilian. Dia berhasil menggabungkan empat disiplin ilmu berbeda. Hal tersebut terungkap dari empat gelar doktor yang diperolehnya. Yakni, bidang applied electronic engineering di Tokyo Institute of Technology, medical science dari Tohoku University, dan pharmacy science di Science University of Tokyo. Yang terakhir adalah doktor bidang ilmu pendidikan di almamater sekaligus tempatnya mengajar, Waseda University.

"Saya sungguh menikmati pekerjaan sebagai akademisi," kata Soetanto di sela kesibukannya menyaksikan MoU Waseda University dan President University.

bersambung : besok aja yah

dan saya kak roni SALAM SUKSES LUAR BIASA CERDAS
Share:

10 Desember 2009

Success Story : Berkarya Dalam Kesunyian dan Kegelapan


Orang buta perlu memiliki pendengaran tajam untuk mengkonpensasi cacat penglihatannya. Orang tuli perlu memiliki penglihatan tajam untuk mengkonpensasi cacat pendengarannya. Apa jadinya bila seorang buta sekaligus tuli..? Tentunya hidupnya sangat menderita dan mustahil untuk berkarya besar. Betul kan..?? Logisnya memang begitu, namun tidak demikian halnya dengan Helen Keller. Dilahirkan sebagai manusia normal pada 27 Juni 1880. Helen tumbuh sebagai balita yang cerdas sampai menginjak usia 2 tahun. Ketika berusia 2 tahun, Helen mengalami musibah sakit keras yang berbuntut hilangnya penglihatan dan pendengarannya.

Orang tua Helen mulai mencari cara untuk mendidik Helen. Sangat beruntung, mereka bertemu dengan Alexander Graham Bell, seorang ahli bunyi penemu telepon. Berkat rekomendasi Bell, sekolah tunanetra dan tunarungu di Boston mengirim guru handal Anne Sullivan untuk menjadi guru Helen. Bu Anne sendiri dulunya pernah sempat buta namun berhasil dipulihkan penglihatannya melalui operasi.

Pada usia 7 tahun, Helen dididik khusus oleh Bu Anne pada rumah terpisah tak jauh dari rumah orang tua Helen. Dibawah didikan Bu Anne yang penuh kasih sayang dan disiplin, Helen belajar banyak hal termasuk bahasa isyarat dan citra diri positif, dan tabiat Helen berubah 180 derajat. Helen melanjutkan pendidikannya ke pendidikan formal tunanetra dan tunarungu di Boston sekaligus belajar berbicara dibawah pendidikan Bu Sarah. Berinteraksi dengan banyak anak tunarungu membuat rasa kemanusiaan Helen semakin kuat untuk mengabdikan hidupnya demi mengurangi penderitaan mereka. Berkat tekad, kerja keras, dan disiplin yang luar biasa, Helen berhasil di terima di Universitas ternama Harvard dan menyelesaikan pendidikan perguruan tingginya pada usia 24 tahun.

Helen ditemani Bu Anne, tak kenal lelah berkeliling berceramah untuk menggugah para dermawan membantu penderita cacat tunanetra dan tunarungu di seluruh dunia. Buku otobiografi dan film tentang riwayat hidupnya sangat laris. Berkat kampanye Helen yang tak kenal lelah sampai akhir hayatnya (Helen meninggal dunia pada tanggal 1 Juni 1967), banyak negara di dunia memiliki undang-undang untuk perbaikan kehidupan para penyandang cacat.

Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari riwayat hidup Helen Keller adalah dengan tekad baja yang dilandasi cinta kasih dan kerja keras serta disiplin, kita akan dapat mencapai tujuan kita sesulit apapun situasi yang kita hadapi. Bahkan kegagalan dan kesunyian tak akan bisa menghalangi kita untuk menggapai impian kita.

dan saya kak roni SALAM SUKSES LUAR BIASA CERDAS

Share:

3 Desember 2009

Success Story:Penyandang Cacat Berprestasi


Salam sukses luar biasa cerdas, ketemu lagi dengan kak roni dalam efisode success story. Kali ini saya akan menceritakan tentang seorang penyandang cacat yang tangguh.

Adalah Sapta Yuli Ismiharti (36), meskipun cacat kaki tak membuatnya rendah diri. Dalam keterbatasannya ia terus bangkit, berkarya dan berusaha memberikan yang terbaik. Berkat keuletannya, mengantarkan dirinya sebagai wanita pengusaha kerudung dan jilbab sukses di Kabupaten Pasuruan. Dibawah bendera Kelompok Usaha Bersama (KUB) Anggrek, ia menaungi 700 pengrajin kerudung dan jilbab, 200 di antaranya penyandang cacat.

Sepintas Sapta Yuli Ismiharti, seperti orang normal keanyakan. Wajahnya cantik dan berkulit kuning, tak terlihat sedikitpun jika ia punya kekurangan dalam tubuhnya. Ketika berjalan barulah kekurangannya itu terlihat. Berjalannya tidak rata karena kakinya tidak normal. 
"Saya memang cacat sejak kecil karena polio," jelas warga Dukuh Ketiren, Desa Beji, Kecamatan Beji Pasuruan itu.

Kendati demikian, wanita yang akrab dipanggil Yuli itu tidak pernah merasa rendah diri. Kekurangan yang dimilikinya bukan halangan untuk duduk sejajar dengan wanita normal lainnya. Sekalipun ditakdirkan cacat, baginya tak ada kata tidak bisa, sepanjang ada kemauan dan kerja keras.

Pemahaman itulah yang membuat Yuli bekerja keras untuk menggapai harapannya. Hari-hari kehidupannya selalu diwarnai belajar dan berkreativitas. Ia sadar sepenuhnya akan kekurangannya, sehingga membuatnya tak mungkin bisa beraktivitas seperti orang normal, termasuk masalah pekerjaan. Namun ia tidak kehilangan akal. Guna menopang kehidupannya, ia mencoba mandiri menekuni usaha kerudung dan jilbab.

Dalam keterbatasannya, tak mudah bagi Yuli merintis sebuah usaha, terlebih persaingan bisnis kini cukup ketat, membuat usahanya pasang surut. Namun berkat kesabaran dan kepiawaiannya, usahanya terus berkembang hingga manca negara. Sukses itu akhirnya memosisikan dirinya sebagai penyandang cacat berprestasi.

Melalui cerita singkat ini, saya hanya mengajak kita semua merenungkan dan mengambil pelajaran dari sosok Yuli. Meskipun dengan keterbatasan fisik, Ia tetap bisa sejajar dengan perempuan normal bahkan sukses sebagai perempuan cacat yang berprestasi.

Dan saya kak roni Salam sukses luar biasa cerdas

Share:

26 November 2009

Success Story : Kreativitas dan Nyali



Gustav Rahman yang biasa hidup berkecukupan di Indonesia harus menerima kenyataan untuk menjadi petani di negeri asalnya RRC di propinsi Guangdong tahun 1966, pada masa awal revolusi kebudayaan Mao Zedong.

Pengetahuannya yang sangat luas tentang perdagangan, bahasa dan ilmu jurnalistik tidak dianggap sama sekali. Ia mesti mencangkul, membajak sawah, menanam bibit, mengairi sawah, menjaga tanaman dari hama pada dan panen. Ia bersama istrinya dan tiga orang anaknya diberi rumah sangat sederhana dekat sawah. Mereka bersahabat baik dengan tikus, nyamuk dan belalang.

Bereka berlima setiap hari di beri jatah makan tiga kali. Tetapi ia sangat menderita karena makannya sangat sedikit. Pagi makan semangkok bubur tanpa lauk sama-sekali. Siang, masih bubur berikut enam potong sayur sawi hijau dan sekerat ikan rebu. Malam, bubur lagi berikut dua potong lobak, delapan butir kacang tanah rebus.

Dalam keadaan sangat sulit, dimana Revolusi Kebudayaan sangat ngawur, dan terjadi amuk hantam antar kelompok di RRC, gustav diam-diam berusaha keluar dari propinsi Guangdong, kesempatan itu terbuka pada tahun 1971. Dengan memompa semangat dan mengumpulkan segenap nyalinya, ia berhasil menyelundup keluar Guangdong dan lolos masuk ke makao dan mereka sekeluarga ditampung teman lama gustav.

Gustav memulai babak baru kehidupannya di makao. Ketika itu ia sudah berumur 40 tahun dan istrinya 36 tahun. Ia mulai membangun karirnya sebagai tukang batu, mandor bangunan, pengawas kualitas bangunan, lalu naik menjadi manajer pemasaran, general manajer dan assisten direktur. Sampai disini diusianya 43 tahun, karirnya berhenti. Sebab yang menjadi Direktur adalah bosnya sendiri.

Gustav bertekad bekerja dua tahun lagi sambil mengumpulkan uang dan membangun jaringan sebanyak mungkin. Genap dua tahun, secara kebetulan ia berjumpa dengan seorang usahawan Indonesia yang pernah ia Bantu di Jakarta. Usahawan ini yang mengerti jasa besar Gustav memberi gustav modal 230.000 dollar AS.

Dari modal inilah plus tabungan yang ia miliki, Gustav membeli tanah seluas 2.000 meter persegi. Lalu ia membangun empat apartemen delapan lantai.

Titik awal kesuksesan
Menyadari bahwa inilahproyeknya yang pertama, dan inilah masa penentuan apakah ia akan bangkit atau terpuruk ke titik nol, gustav bertrung habis-habisan. Ia mengerahkan seluruh energinya untuk membangun apartemen yang sangat atraktif. Ia sendiri turun membangun dan juga memasarkan apartemen, sementara istrinya sebagai sekretaris dan tenaga sales yang handal.

Akan tetapi tidak disangka, proyek properti Gustav ini laris manis bagai kacang goring hangat. Jauh lebih laris dari proyek mantan bos Gustav. Mantan wartawan ini meraih keuntungan dua kali lipat dari modal proyek. 

Tumbuhnya Kepercayaan Diri
Dari sini Gustav mendapat pijakan dan kepercayaan diri lebih besar. Ia membeli tanah 10.000 meter persegi, dan kembali membangun enam apartemen 15 lantai. Untuk yang kedua kalinya ini ia kembali meraih kesuksesan besar. Perusahaan Gustav terus berkembang, dan ia tidak lagi hanya bergerak di bidang property, tetapi juga dalam beberapa jenis industri.

Ketika sudah mapan, Gustav mengajak anak-anaknya meneruskan usahanya itu. Ia tidak khawatir usha yang dibangun dari titik nol akan kembali ke titik nol lagi, karena ia sudah merasa cukup memberi bekal pengetahuan kepada anak-anaknya.

Dua hal yang tidak mudah ia wariskan adalah kreativitas dan nyali. Dua aspek ini sulit diajarkan sebab banyak tergantung pada talenta masing-masing. Tentang kreativitas, ia tularkan dengan cara hanya memberi contoh, dan memberi kesempatan anak-anak itu berkreasi. Sebagai orang tua, ia berjalan di belakang. Jikalau anaknya berjalan lurus, ia beri semangat. Sebaliknya jika miring kesana kemari ia ajak kembli berjalan lurus.
sumber : kompas

Catatan kak roni:

Untuk meraih kesuksesan bisnis, tidak hanya dibutuhkan nyali, kreativitas, modal, inovasi, dan diferensiasi, tetapi juga jaringan relasi yang luas. Ini aspek yang kerap diabaikan para pemilik bisnis, dan pada titik ini pula banyak pengusaha terjebak.

Bagaimana tanggapan anda..??

Dan saya kak roni SALAM SUKSES LUAR BIASA
Share:

24 November 2009

Success Story : Orang-Orang Luar Biasa




Mark Zuckerberg (kini 25 tahun/asal AS)
Ketika menciptakan situs jejaring sosial Facebook, Mark Zuckerberg baru berusia 19 tahun. Ia membuat Facebook untuk membantu membangun jaringan sosial bagi remaja di kampusnya saat itu, Universitas Harvard, Amerika Serikat.
Kini, Facebook merupakan situs jejaring sosial terbesar kedua setelah MySpace. Di bawah pimpinan Sang Penemu, situs ini terus tumbuh hari demi hari. Jutaan pengguna baru terus mendaftar setiap bulan!


Steve Shih Chen (31 tahun/Taiwan-AS), Jawed Karim (30 tahun/Jerman-AS), Chad Hurley (32 tahun/AS)
Keduanya adalah pencipta dari situs "berbagi video online", YouTube. Mereka mendirikan YouTube pada 2005. Ketika itu, Chad berusia 28 tahun dan Steve 27 tahun.
Pada Oktober 2006, YouTube diakuisisi (diambil alih kepemilikannya) oleh Google. Nilainya: 1,65 miliar dollar AS (Rp16,9 triliun).


Jerry Yang (40 Tahun/Taiwan-AS) dan David Filo (42 tahun/AS)
Pada tahun 1995, kedua orang ini menemukan Yahoo!, situs mesin pencari kedua terbesar setelah Google. Saat itu, Jerry berusia 26 tahun dan Filo 28 tahun.
Tahun lalu, perusahaan raksasa Microsoft sempat ingin membeli Yahoo!. Nilai tawaran yang dibicarakan: 44,6 miliar dollar AS (Rp458,8 triliun). Rencana ini memang batal. Namun, Microsoft dan Yahoo! tidak menampik mengenai kemungkinan kerja sama di masa mendatang.


Matt Mullenweg (25 tahun/AS)
Matt Mullenweg adalah pencipta situs penyedia blog gratisan: WordPress. Ia mulai baru berusia 19 tahun ketika mulai menciptakan cikal bakalnya.
WordPress menjadi tenar dalam waktu singkat. Alasannya, situs ini mudah dipakai dan selalu diperbarui. Hingga tahun 2008, tercatat ada 230 juta pengakses tetap dengan 6,5 miliar halaman WordPress yang bisa dilihat. Lalu, ada 35 juta posting baru dengan tambahan rata-rata empat juta posting setiap bulan.
Matt, yang pernah datang ke Jakarta pada Januari 2009 ini mengatakan, ia tidak akan menjual WordPress ke perusahaan besar dengan harga' selangit'. Ia juga bilang, tidak mencari keuntungan dari WordPress. Keuntungan sudah ia dapatkan dari beberapa perusahaan, yang dimilikinya.



Tom Anderson (38 tahun/Amerika Serikat)
Tom Anderson merilis MySpace pada bulan Agustus 2003. Ada kesimpang siuran data mengenai usianya saat itu, namun berbagai sumber menyebut Tom berusia kurang dari 30 tahun ketika menciptakan MySpace.


Saat ini, MySpace adalah salah satu situs jejaring sosial paling besar di dunia, yang bersaing ketat dengan Facebook. MySpace telah digunakan lebih dari 100 juta orang, dengan pengguna terbesar berasal dari kawasan Amerika Serikat.
Kelebihan MySpace terletak pada bidang musik. Ketika fasilitas musik terbaru (yaitu "audio streaming" gratis) diluncurkan pada 25 September 2008, hanya dalam beberapa hari saja, ada miliaran lagu yang didengarkan oleh para penggunanya. Kelebihan ini membuat banyak orang memperkirakan bahwa MySpace bisa mempengaruhi industri musik di internet. 


Blake Aaron Ross (23 tahun/AS)
Blake Ross adalah pemuda jenius yang menciptakan Mozilla, fasilitas penjelajah internet. Mozilla diluncurkan untuk umum pada November 2004. Saat itu, usia Blake baru 19 tahun!


Mozilla kemudian digabungkan dengan Firefox, program yang diciptakannya bersama Dave Hyatt. Maka, setelah itu, namanya menjadi Mozilla Firefox.
Dengan cepat, Mozilla Firefox diterima para pengguna internet di dunia. Ia, antara lain, dinilai lebih aman dan mudah dipakai (dibandingkan dengan para kompetitornya). Ia juga dinilai mampu merebut sebagian pasar fasilitas penjelajah internet, yang selama ini dikuasai oleh Microsoft Internet Explorer.
Banyak orang memuji kesuksesan Blake Ross. Direktur engineering Yayasan Mozilla, Chris Hoffman, mengatakan, "Dalam dunia ‘Open Source', posisi seseorang tergantung pada keahliannya. Dan Blake Ross memiliki semua keahlian yang dibutuhkan." 



Pierre Omidyar (41 tahun/Perancis-AS)
Pierre Omidyar merilis eBay pada 4 September 1995. Saat itu, usianya 28 tahun.


eBay adalah situs lelang online. Awalnya, Pierre membuat eBay untuk menolong seorang teman dekat yang ingin menjual sebuah produk. Namun, tak lama kemudian, eBay berkembang pesat menjadi lahan bisnis yang amat prospektif. Kini, eBay adalah situs lelang online terbesar di dunia.
Menurut Pierre, dalam sebuah wawancara, kesuksesan eBay tidak lepas dari dua hal. Pertama, kuatnya komunitas penjual dan pembeli, yang jumlahnya mencapai ratusan juta orang. Kedua, nilai-nilai baik yang dianutnya. Dalam bisnis, eBay percaya bahwa pada dasarnya setiap manusia itu baik dan setiap orang memiliki suatu keunggulan yang bisa diberikan kepada orang lain. Selain itu, eBay percaya bahwa kejujuran dan keterbukaan bisa membawa kebaikan pada diri manusia. Maka, aturan "emas" eBay adalah mengakui dan menghormati setiap orang sebagai individu yang unik. eBay pun berharap para anggotanya bisa mengikuti contoh yang diberikan. 


Larry Page (36 tahun/AS) dan Sergey Brin (35 tahun/AS)
Keduanya merilis Google pada 4 September 1998. Saat itu, mereka baru berusia 25 tahun dan 24 tahun. "Kantor" pertama mereka adalah garasi.

Google, mesin pencari yang bisa menampilkan segala jenis informasi ini, disukai banyak orang - terutama para mahasiswa. Maka, hanya dalam tempo waktu beberapa tahun saja, Google bisa berkembang amat pesat dan meraup keuntungan miliaran dollar AS. Kini, Google bisa disebut sebagai mesin pencari nomor satu di dunia.

Kisah sukses Larry Page dan Sergey Brin dalam menciptakan dan mengembangkan Google telah menjadi inspirasi bagi banyak orang muda di dunia ini, khususnya para penggemar teknologi informasi. Mereka berharap bisa membuat program baru yang berguna bagi masyarakat dunia dan menguntungkan dari segi finansial.

dan saya kak roni SALAM SUKSES LUAR BIASA
Share:

Test Footer 1

ads

Test Footer

ads

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Business

[Business]

Flickr Widget

Videos

3/Food/recent-videos

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Recent Posts

Business

3/Business/big-col-left
Header ADS

Featured

Followers

Nature

ads

Test Footer 2

recentposts

Comments

recentcomments

Adbox